
Museum
Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Jawa Tengah,
jaraknya sekitar 15 km sebelah utara Surakarta di
lembah Sungai Bengawan Solo. Kawasan Sangiran terbagi antara 2 kabupaten
yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kalijambe,
dan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo). Sangiran memiliki luas mencapai 56 km².
Museum Sangiran berbentuk kubah yang telah terbentuk jutaan tahun yang lalu
melalui kenaikan tektonik.
Situs
sangiran pertama kali ditemukan oleh P.E.C schemulling pada tahun 1883. Pada
akhir abad ke-19, Eugene Dubois juga pernah melakukan penelitian di Sangiran, namun
tidak terlalu intensif karena kemudian ia memusatkan aktivitas di kawasan Trinil, Ngawi. Tahun 1934 Gustav Heinrich
Ralph von Koenigswald memulai
penelitian di area Sangiran Pada tahun-tahun berikutnya, ia menemukan fosil
manusia purba pertama yaitu Pithecanthropus
erectus. Pada tanggal 5 Desember
1996, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Sangiran
diputuskan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia sebagai warisan
kebudayaan pada tahun 1977. Selain manusia purba, juga ditemukan fosil tulang
belulang hewan hewan bertulang belakang (vertebrata), seperti buaya,
Hippopotamus (kuda nil),berbagai rusa, harimau purba, dan gajah purba.
Museum
Sangiran terdapat tiga ruangan yang berbeda beda isinya. Ruang pertama berisi sejumlah diorama yang memberikan
informasi tentang manusia purba dan hewan yang ada di situs Sangiran sekitar 1
juta tahun yang lalu. Di sana juga terdapat banyak penemuan fosil di daerah
Sangiran oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, Darwin, Eugene Dubois and lainnya. Kita
bisa melihat belalai gajah purba dengan panjang 3 m. Selain itu juga ada
berbagai macam fosil lainnya, seperti fosil harimau purba, gajah purba, babi
purba, hewan bertanduk, buaya, berbagai macam
moluska, kehidupan homo erectus dan lainnya.
Ruang kedua, yang tempatnya
lebih luas, menyajikan banyak bahan rinci tentang berbagai fosil yang ditemukan
di Sangiran dan tentang sejarah eksplorasi di situs. Ketika memasuki ruang
kedua langsung disajikan video terbentuknya alam semesta. Kita juga bisa
menyentuh langsung fosil yang terdapat di ruang tersebut supaya kita dapat
merasakan secara langsung suasana zaman purba. Selain itu juga terdapat
tengkorak manusia purba, masa berburu, dan kura kura purba.
Di ruang terakhir,
berisi diorama besar yang memberikan pandangan seluruh wilayah Sangiran, dengan
gunung berapi seperti Gunung Lawu di latar belakang dan manusia
dan hewan di latar depan, seperti yang dibayangkan sekitar 1 juta tahun yang
lalu. Peralatan manusia purba juga diperlihatkan di setiap ruang. Setelah
keluar dari ruang tiga kita dipersilakan untuk memasuki sebuah ruangan yang
menyajikan film kehidupan manusia purba dari awal hingga akhir. Selesainya
menonton film kita diberikan waktu untuk bertanya tentang apa saja mengenai
film tersebut.
